Prinsip Hidup Bahagia
Menurut Islam
admin wahdah Juni 12, 2014 17,359 Views
105
SHARES
FacebookTwitter
kebahagiaan
Setiap manusia menghendaki kehidupan yang bahagia. Tidak ada satupun
manusia yang ingin hidup susah, gelisah, dan tidak merasakan
ketentraman. Akan tetapi setiap manusia memiliki prinsip dan cara
pandang yang berbeda dalam mengukur kebahagiaan. Karena yang paling
memengaruhi seseorang dalam mengukur kebahagiaan adalah prinsip dan
pandangan hiudp yang dipijakinya.
Bagi seorang Muslim, kebahagiaan tidak selalu berupa kemewahan dan
keberlimpahan materi duniawi. Berikut ini beberapa pinsip kebahagiaan
dalam konsep hidup Islam. Tulisan ini akan menguraikan beberpa prinsip
hidup bahagia menurut Islam.
1. Bahagia di Jalan Allah (Sabilu[i]llah, shiratullah
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [٦:١٥٣]
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Qs. Al-An’am:
153)
Kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan meniti jalan yang digariskan
oleh Allah. Yang dimaksud dengan meniti jalan Allah adalah menaati
perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya dengan ikhlas dan benar. Ayat
153 surah al-An’am diatas sebelumnya didiahului dengan penjelasan
tentang beberapa perintah dan larangan Allah kepada orang beriman.
Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa orang yang meninggalkan jalan yang
digariskan oleh Allah akan, tidak tenang dan tidak bahagia. Karena ia
akan mencari jalan dan sumber kebahagiaan pada jalan yang dibuat dan
digariskan oleh selain Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤]
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat
dalam keadaan buta”. (surat Thaha [20]: 123.
2. Menggabungkan antara kebahagiaan ruh dan Jasad
Manusia terbentuk dari ruh dan jasad. Masing-masing dari keduanya
membutuhkan gizi dan nutrisi yang harus dipenuhi secara adil. Sebagian
kalangan hanya menekankan aspek ruh dan mengabaikan kebutuhan jasad.
Sebaliknya sebagian yang lain hanya menekankan pemenuhan kebutuhan jasad
dan mengabaikan kebutuhan ruh.
Adapun petunjuk Islam memenuhi kebutuhan keduanya (ruh dan jasad) secara
adil. Ruh dipenuhi kebutuhannya dengan cahaya wahyu dari langit dan
menjaga kesehatan jasad dengan pememenuhan hajat syahwat dan syahwat
melalui cara yang halal dan thayyib. Allah Ta’ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ
نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi. (Surah al-Qashash [28]:77).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada ummatnya untuk
menunaikan hak kepadapemiliknya masing-masing. “Sesungguhnya Rabbmu
punya haq darimu, dirimu punya haq darimu, keluargamu juga punya hak,
maka berilah setiap hak kepada pemiliknya” (Terj. HR. Bukhari).
3. Kebahagiaan dan Keberanian (Menghadapi Resiko hidup)
Barangsiapa yang telah menikmati manisnya Iman, maka ia takkan pernah
mau meninggalkannya, kendati pedang diletakkan di lehernya. Sepertimana
tukang sihir Fir’aun yang tegar menghadapi ancaman potong tangan-kaki
dan salib;
قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ
الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ ۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ
وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ
وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَىٰ [٢٠:٧١]
Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku
memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang
mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong
tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik,
dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon
kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang
lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. (Qs Thaha [20]:71).
Mereka tetap teguh dan tegar sebagaimana diabadikan oleh Allah;
قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي
فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا [٢٠:٧٢]
Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada
bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan
daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang
hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada
kehidupan di dunia ini saja. (Qs Thaha [20]:72).
Tidak ada sesuatupun yang meneguhkan dan menegarkan mereka, kecuali
karena mereka telah merasakan lezat dan manisnya keimanan. Sehingga
mereka merasakan ketenangan batin dan ketegaran saat menghadapi ancaman,
termasuk ancaman pembunuhan sekalipun.
4. Kebahagiaan adalah Ketenangan dalam Hati
Tiada kebahagiaan tanpa sakinah (ketenangan) dan thuma’ninah
(ketentraman).Dan tiada ketenangan dan ketentraman tanpa iman. Allah
Ta’la berfirman tentang orang-oranf beriman:
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin
supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah
ada). (Qs Al-Fath: 4).
Keimanan melahirkan kebahagiaan dari dua sisi (1) Iman dapat
menghindarkan dan memalingkan seseorang dari ketergelinciran ke dalam
dosa yang merupakan sebab ketidak tenangan dan kegersangan jiwa. (2)
Keimanan dapat menjadi sumber utama kebahagiaan, yakni sakinah dan
thuma’ninah. Sehingga di tengah lautan masyakil (probematika) dan krisis
hidup tidak ada jalan keluar dan keselamatan selain Iman.
Oleh karena itu orang yang tanpa iman di hatinya dipastikan akan selalu
dirundung rasa takut, was-was, kahwatir, gelisah, galau. Adapun bagi
orang beriman. Adapun bagi orang beriman tidak ada rasa takut sama
sekali, selain takut kpda Allah Ta’ala.
Hati yang dipenuhi iman memandang remeh setiap kesuliatn yang
menghimpit, kerana orang beriman selalu menyikapi segala persoalan
dengan tawakkal kepada Allah. sedangkan hati yang kosong, tanpa iman tak
ubahnya selembar daun rontok dari dahannya yang diombang-ambingkan oleh
angin.
5. Berpindah dari kebahagiaan dunia pada kebahagiaan akhirat
Pasca kehidupan dunia, akan memasuki kehidupan di alam kubur bakda
kematian dan selanjutnya kehidupan di negeri akhirat setelah hari
kiamat. Dan jalan-jalan kebahagiaan akan menyertai manusia dalam tiga
fase kehidupan tersebut (dunia, alam kubur,& hari akhir)
Dalam kehidupan dunia Allah Ta’ala telah menjanjikan kebahagiaan bagi
orang-orang beriman dan beramal shaleh:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٦:٩٧]
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.(Qs An-Nahl [16]:97).
Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang beriman dan beramal shaleh
akan dihidupkan di dunia dengan kehidupan yang baik; bahagia, tenang,
tentram, meski hartanya sedikit.
Adapun kebahagiaan di alam kubur, seorang Mu’min akan dilapangkan
kuburannya, sebagaimana diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, seorang Mu’min dalam kuburannnya
benar-benar berada di taman yang hijau, dilapangkan kuburannya sejauh
tujuh puluh hasta, dan disinari kuburannya seperti –terangnya- bulan di
malam purnama” (dihasankan oleh al-Albaniy).
Sedangkan kebahagiaan di akahirat Allah berjanji akan tempatkan dalam
surga dan kekal di dalam selama-lamanya jelaskan dalam Hud ayat 108,
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا
دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً
غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga,
mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika
Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada
putus-putusnya” (Terj. Qs Hud [11]:108)
Singkatnya, dengan iman seorang hamba dapat meraih kebahagiaan hakiki di
dunia dan di akhirat. Jadi, Islam telah datang dengan konsep dan jalan
kebahagiaan yang abadi, yang mencakup kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.
Meskipun demikian Allah telah menjadikan kebahagiaan dunia dan akhirat
sebagai dua sisi yang saling terkait dan terpisah. Sehingga keduanya
tidak perlu dipertentangkan. Sebab keduanya adalah satu. Keduanya adalah
jalan yang satu. Allah mengingatkan bahwa siapa yang menghendaki
balasan dunia, maka Allah memeiliki balasan di dunia dan akhirat;
مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ ۚ
Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi),
karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.(Qs An-Nisa [4]: 134).
Namun bagi seorang Muslim yang beriman bahwa kebahagiaan yang ada disisi
Allah jauh lebih baik dan kekal abadi. (sym)
Sumber Tulisan: http://wahdah.or.id/prinsip-hidup-bahagia-menurut-islam/
Sumber Tulisan: http://wahdah.or.id/prinsip-hidup-bahagia-menurut-islam/